MolokuNews–
Sapaan Tete Ali orang Tua Lensia Berusia 80-an asal dari Morotai yang tiba tiba mendadak Viral Bermula di akun Tiktok / Media Sosial ( Konten Kriator) menuai Kritik dan Sport dari kalangan Masyarakat Didunia Maya, dari Sejumlah Masyarakat yang berlatar Blakang Akademisi, Pengamat Politik, Sosial, Ativis dll.
Menarik Untuk Dicermat dan dianalisa Terhadap Tulisan dari Berbagai Tokoh dan Ativis maluku Utara mengenai sosok Tete Ali, yang Pertama Tulisan yang Bertanjuk Tete Ali, Zaman yang Berubah & Ilmu Permakluman, ( kedua) Tete Ali dan kata kata kasar yang disalahpahami, ( ketiga) Diksi yang Tergelincir, Ketika makian Viral dan jadi tontonan, ( keempat) Memikirkan Ekspolitasi kerentanan Tete Ali (Lima) Krisis Empati, Ekspolitasi Emosi: Sebuah Kritik.
Kita tidak bisa Terlepas dari Siklus Perubahan zaman, Semacam sebuah kepasrahan Terhadap Keadaan di era dan Konteks zaman yang Disebut era Digital, Budaya Semakin Terkikis dengan adanya konten seperti Tiktok yang dijadikan alat Komoditi, Sehingga Tepatlah apa yang di bilang oleh Bill Gates bahwa Teknologi punya Peranan Besar Untuk Menguba cara kerja seperti Mekanik dalam Kehidupan manusia, dan Mungkin Sepulu tahun kemudian otak manusia akan Digantikan dengan Teknologi yang Disebut Digital AL Demikian bahwa Teknologi ini tidak hanya mempercepat inovasi, tetapi juga mulai menggeser pola kerja konvensional manusia.
Fenomena Tete Ali menjadi Viral Awalnya beliau Dikenal sebagai kurang Waras/lensia, psikolognya Terganggu dan naik Pitan ketika Diganggu, namun Nasip seseorang kita tidak tahu, tapi perlu kiranya Memahami sebagai manusia yang Usianya tidak muda lagi.
Beliau dijadikan bahan Tertawa oleh orang lain sebagai Objek Emosional dengan kata yang vulgar diucapkan akan Tetapi orang hanya tahu bahwa beliau ini tidak Waras dan hobi Meluapkan Emosi Diikuti dengan Kalimat Memaki yang Dinilai kurang Etis.
Sebuah Kalimat dengan nada Makian tidak akan Menjadi tren/ Viral jika tidak di ekspos ke khalak media, Namun siapa sangka jika hal itu sengaja di ekspos dan dijadikan tontonan bagi awak media, Terus siapa yang disalahpahami, apakah Objek dalam hal ini tete Ali dan Subjek yang Menilai.?. Sehingga Melontarkan Kritik dan Empati pada tete Ali dan orang yang mendukung, Kritik harus pada tempatnya dalam tanda Kutip nilai Estetik dan anatomi yang penuh dengan Emosional, tanpa menanam Kebencian Personal yang penuh Empati.
Berbagai macam Tafsiran dan asumsi yang kabur bagi orang Terhadap Tete Ali bahwa beliau Dimanfaatkan oleh orang Ketiga Untuk cari uang lewat Simpatisan di awak media, ini bukan soal logika yang salah, tapi gagal Untuk memahami, sebab tahu dan memahami memang Berbeda, tahu hanya mengunakan logika dan memahami dengan hati dan bahasa Qalbu, mereka Menjadikan Tete Ali sebagai barang Dagagan/ badut yang Dikomoditikan oleh konten Kriator, Sport, like dll itu akan menaikkan Vlogger sebagai nilai jual. Ada yang bilang bahwa konten Tete Ali itu tidak layak Dipertontonkan, Karena Mengandung nilai Negatif yang tidak pantas, seperti hobi Memaki yang itu Mempengaruhi pola pikir dan sikap generasi yang menontonnya adalah Sebuah Adigium yang Terlalu di normalisasi menjadi hak primer Untuk Menuntukan Perilaku baik buruk seseorang, tanpa Memahami dari segi positif, merasa suci, sehingga Mencemo dengan kata tidak sopan / Imoral.
Harus didudukan dulu mana Etika dan Etiket, Etika Menuntu kita Untuk berlaku sopan santun dalam Berucap dan Berprilaku pada sesama dalam Hubungan Masyrakat pada Umumnya,etika Bersifat tidak Terbatas bagaimana etika itu harusnya dilakukan dengan cara dan sikap seseorang dan ini melahirkan suatu norma hukum dalam Masyrakat setempat, sementara Etiket hanya Bersifat sementara dan etiket hanya dinilai dari penampilan atau sikap-sikap yang terlihat secara fisik.Ketika kita Memberikan barang kepada orang lain harus menggunakan tangan kanan ini bukan Etika tapi Etiket sesuai dengan anatomi Tubu kita,makan dan minum enta menggunakan tangan kanan atau kiri ini tidak jadi Masalah tanpa Menganggu orang lain. Orang punya/ orang punya barang itu bukan menjadi hak Milik kita dalam Pengertian kita dilarang mencuri ini adalah etika, meminjam barang orang lain, kita harus Ingat Untuk mengembalikannya. Kalau Tete Ali punya bahasa saya paling takut kalau saya Bapinjam doi di orang biar pun saya susah, nah ini masuk pada etika dan bukan Etiket. Bahasa dan Proposisi yang Mencerminkan realitas kebudayaan dan realitas dan itu adalah ciri khas Manusia, atau dalam bahasa lain adalah karya dan Kreasi Insani yang membedakan Manusia dengan mahluk lain.
Hermenuetika Sebuah Kritik Untuk memahami, dari Berbagai Krtik dan Sport Terhadap Tete Ali yang disalahpahami adalah Sebuah seni Estetik pada Dataran yang paling Renda, Boleh di bilang Seperti itu.
Hermeneutika kerapkali terasa kabur dan tidak bisa dimengerti dengan mudah dalam kehidupan masyarakat, Kehidupan sosial masyarakat sebenarnya tidak terlepas dari hermeneutika hal Ini menjadi dasar dari pemahaman dan penyampaian sesuatu yang dilakukan oleh setiap individu dalam kelompok.
Jika hermeneutik bisa difungsikan dengan baik akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat dan sebaliknya begitu. Ada juga Retorika menjadi Penting dalam penyampaian sebagai seni berbicara yang memberikan sentuhan khusus bagi penjelasan tentang apa yang disampaikan kepada lawan bicaranya.
Hermeneutik dan Retorik memiliki hubungan yang khusus dalam pergerakan zaman dan pemikiran manusia.Retorik dan hermeneutik secara mendasar saling berjumpa di satu titik, berbicara dan tahu, memahami merupakan daya kodrati Manusia.
Di sini saya Mecoba Untuk mengunakan Hermenuetik nya Georg Gadamer seorang Tokoh Filologi dan sastrawan JermanJerman abad 20, jika hermeneutik berkaitan dengan seni memahami maka maka harus ada pula seni berbicara, Manusia bertemu untuk saling melengkapi sehingga menghasilkan buah buah pemahaman yang semakin berkembang.
Manusia dianugerahi kemampuan untuk mengungkapkan maksudnya dan memahami maksud sesamanya. Hermeneutik dan retorik mengundang lawan bicara untuk semakin meyakini dan membenarkan apa yang telah ia dengar dan mengerti. Hal itu dikarenakan ada pembimbingan akal budi dan cara berpikir sehingga sampai pada taraf kelogisan dan berujung kepada keyakinan.
Apakah sudah benar dan logis jika apa yang kita pikirkan dengan bahasa yang kita lontarkan itu sudah sesuai dengan akal sehat kita, Sehingga dengan mudahnya Mencemo dan Menghina Otoritas pada anatomi Tubu seseorang dengan kata tidak Sopan dan imoral tanpapertangungjawabkan MemahamiMemahami dan itu tidak dibenarkan dan di pertangungjawabkan.
Retorika juga kerapkali dipandang sebagai alat untuk mengelabui dan menjerumuskan seseorang kepada pengertian yang tidak sesuai demi kepentingan diri sendiri.
Hermeneutika mengemban tugas tertinggi dalam pemahaman manusia.Teks-teks yang tertulis menjelaskan tugas hermeneutik dengan nyata.Pemahaman tidak terikat oleh ribuan teks. Hermeneutik menembus keterbatasan pemahaman yang terkurung dalam teks, dalam hal ini hermeneutik membimbing manusia untuk masuk ke dalam pemahaman yang otentik.
Tete Ali adalah teks Untuk bisa Dipahami dan dibaca dengan Konteks, siapa saja bisa menafsirkannya tanpa Terjebak pada kesalahpahaman. Hermeneutik dan retorik menjadi jembatan bagi sang subjek untuk menafsirkan objek di dalam lingkungan hidupnya, dan Tete Ali adalah Objek dan kita adalah Subjek Untuk memahami dan menafsirkan Objek.
Maka dalam hal Ini, kita Terlalu Terburu buruh Untuk memahami dan disalahpahami Sehingga Mencemo dan menudu Tete Ali si badut yang haus Seperti Sebuah Dagangan yang di perjualbelikan, saya ingatkan bahwa Dangandan yang paling laris dan berbahaya adalah jual beli Agama, sebagaimana yang Pernah di Sentil oleh Ibnu Rusyid bahwa Dagangan yang Paling Laris adalah jualan Agama, mereka membungkus dan Membodohi orang dengan Jualan agama dan Nama.
Tiada gadin yang retak semoga Bermanfaat. ( Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd)
