Oleh: Barlin Rano, Mahasiswa Patani
Minggu, 6 Juli 2025
Patani, MolokuNews.com — Di balik narasi kepedulian yang digaungkan oleh para petinggi PT. Duta Araco Investama (DAI), tersembunyi wajah lain yang tak banyak diketahui publik. Mereka yang selama ini tampil sebagai pembawa pencerahan dan pemersatu perusahaan, ternyata justru menjadi aktor utama dalam menciptakan kebingungan, pembelahan, dan manipulasi opini publik.
Dengan lihai, para aktor ini membungkus agenda pribadi dalam balutan jubah moral dan jargon sosial. Mereka menyampaikan pesan-pesan penuh empati, menampilkan wajah seolah mewakili kepentingan masyarakat dan masa depan perusahaan, padahal dalam diam mereka justru menyalakan api konflik, mengabaikan suara-suara kritis, dan merusak sendi integritas internal.
Strategi Usang: Bermain Peran Sebagai Korban
Saat berbagai dugaan penyimpangan mulai terkuak dan integritas perusahaan dipertanyakan, aktor-aktor ini tidak menyambut transparansi, melainkan memilih strategi defensif yang sudah usang namun masih sering dipentaskan: playing victim.
Narasi “kami diserang” dan “kami difitnah” diluncurkan serentak, bukan sebagai klarifikasi substansi, tetapi sebagai pengalih isu. Mereka berusaha menekan balik suara-suara yang mengusik kenyamanan mereka. Bahkan, ada indikasi bahwa mereka menggunakan pengaruh struktural untuk membungkam internal yang mencoba mengungkap fakta.
“Bukan kami yang memecah, justru mereka yang terus meneriakkan kejujuran itulah yang dianggap pengganggu stabilitas,” ujar salah satu sumber internal yang enggan disebutkan namanya.
Pencerahan Palsu dan Kultus Loyalitas
Dalam berbagai forum internal, mereka juga gencar menyuarakan misi besar: pencerahan dan transformasi perusahaan. Namun bila ditelisik lebih dalam, apa yang mereka sebut “pencerahan” justru mengarah pada pembentukan kultus loyalitas buta yang anti kritik. Transparansi dianggap ancaman. Audit independen ditolak secara halus. Pelanggaran disembunyikan dengan rapi di balik narasi stabilitas.
Mereka bicara tentang etika dan moral, tetapi tak pernah bersedia membuka ruang dialog terbuka. Mereka menuntut loyalitas, padahal mereka sendirilah yang oportunis—bergerak sesuai arah angin kekuasaan.
“Pencerahan sejati itu menuntut kejujuran, bukan kepatuhan buta,” tegas Barlin Rano, penulis opini ini, yang juga mahasiswa asal Patani yang aktif mengamati dinamika korporasi di wilayah Maluku Utara.
Akhir dari Sebuah Kepalsuan
Setiap topeng pasti retak. Demikian pula topeng yang kini dikenakan oleh para elit PT. DAI. Masyarakat, pemegang saham, bahkan internal perusahaan, tak lagi sepenuhnya percaya pada narasi yang terus diulang. Dunia telah berubah, dan publik kini lebih cerdas memilah antara drama murahan dan realitas yang sesungguhnya.
Keberanian untuk mengungkap kebenaran, meskipun penuh risiko, adalah satu-satunya jalan menuju reformasi sejati. Dan perubahan tidak akan datang dari mereka yang terus bermain peran sebagai malaikat, melainkan dari individu-individu yang bersedia berdiri tegak di tengah badai, menyuarakan yang benar, meski sendirian.
—
Catatan Redaksi:
Tulisan ini adalah opini pribadi penulis yang merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat di ruang publik. Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak PT. Duta Araco Investama guna memberikan klarifikasi atau tanggapan yang proporsional atas opini ini.
—
Redaksi: Mito
Editor: Win
