🇮🇩–MOLOKUNEWS.COM–🇮🇩
Ternate – Dunia maya di Maluku Utara kini berubah menjadi arena kompetisi yang semakin tak sehat. Dua platform yang tengah digandrungi pengguna, Facebook Pro dan TikTok, belakangan dipenuhi konten saling serang, hujat, dan sindir menyindir antarpengguna. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius, terlebih di tengah masyarakat Maluku Utara yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu SARA
Dari hasil pemantauan di dua platform tersebut, ruang digital kini dibanjiri potongan video provokatif, mulai dari adegan merokok, jogetan dengan pakaian tidak sopan, hingga percakapan yang berisi hinaan dan pelecehan verbal. Konten-konten semacam ini justru ramai ditonton, seolah semakin kasar semakin diminati.
“Sekarang banyak orang ingin viral tanpa memikirkan akibatnya. Padahal viral tanpa etika itu bukan prestasi, tapi tanda rendahnya literasi digital,” ungkap seorang pemerhati media sosial di Maluku Utara. Menurutnya, fenomena ini bukan hanya persoalan moral pribadi, tetapi berpotensi menyeret masyarakat pada konflik sosial jika terus dibiarkan.
Tidak hanya itu, peningkatan jumlah anak di bawah umur yang aktif menonton konten provokatif di TikTok dan Facebook Pro juga menjadi perhatian serius. Ia khawatir, perilaku saling hina, joget tidak wajar, serta konten senonoh dapat dianggap normal oleh generasi muda yang belajar melalui proses meniru.
“Kalau setiap hari yang dilihat anak-anak adalah orang dewasa saling menghina dan memproduksi video senonoh, mereka pasti akan menganggap itu hal biasa. Ruang digital seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kreativitas positif, bukan arena penyebaran kebencian,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa salah satu ancaman terbesar di ruang digital Maluku Utara adalah penyebaran hoaks dan konten berpotensi konflik. Maluku Utara merupakan wilayah yang memiliki sejarah panjang soal gesekan sosial. Satu video lama yang diunggah ulang dengan narasi menyesatkan bisa memicu sentimen antarkelompok dan merusak persaudaraan yang telah dibangun susah payah.
“Tidak boleh membiarkan ruang digital jadi pemantik konflik. Maluku Utara harus belajar dari pengalaman. Menjaga etika digital sama pentingnya dengan menjaga adat dan budaya lokal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Maluku Utara memiliki nilai-nilai adat yang kuat, seperti rasa hormat, solidaritas, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini perlu dihidupkan kembali dalam kehidupan digital, bukan justru ditinggalkan saat berhadapan melalui layar.
“Kalau di dunia nyata kita bisa saling sapa, peluk, dan bergandengan tangan, kenapa di dunia maya kita saling serang? Bukankah dunia digital juga bagian dari torang punya kehidupan sosial?” tambahnya.
Fenomena mudah tersulut oleh komentar negatif disebut menjadi salah satu masalah besar. Ia mengingatkan bahwa jika di dunia nyata masyarakat mampu menjaga lisan, maka di dunia maya seharusnya mampu menjaga jari jempol.
Selain itu, ia mengingatkan para kreator konten di Maluku Utara untuk tidak mengorbankan etika demi popularitas. Banyak kasus pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE bermula dari unggahan yang tidak bertanggung jawab. “Banyak yang baru sadar setelah dipanggil polisi. Padahal dari awal sudah jelas, media sosial bukan ruang bebas tanpa hukum,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya pengguna Facebook Pro dan TikTok, agar berhati-hati dalam membuat dan membagikan konten. Menurutnya, jika ingin dikenal, mestinya dikenal karena karya, bukan karena cacian.
“Setiap unggahan punya konsekuensi sosial. Dunia maya bukan sekadar hiburan, tapi ruang publik yang memengaruhi kehidupan nyata. Jari jempol itu kecil, tapi bisa menyalakan api. Gunakan untuk menyalakan terang, bukan membakar torang punya rumah sendiri,” pesannya.
Ia menutup dengan satu pernyataan yang menggugah: “Maluku Utara terlalu berharga untuk dijadikan medan kebencian digital. Di tanah Moloku Kie Raha, viral tanpa etika bukan prestasi.”
#Salam_Anak_Kulit_Pisang
#Dari_Desa_Untuk_Kota
#Isto93
Editor Mito molokuNews.Com
