Oleh: Barli Rano
Di tengah arus perubahan global yang ditandai oleh revolusi digital dan kecerdasan buatan, dunia memasuki era baru yang disebut Society 5.0—sebuah tatanan masyarakat yang menempatkan teknologi canggih bukan sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan sosial dan meningkatkan kualitas hidup. Dalam konteks ini, pendidikan memegang peran kunci. Namun, bagaimana potret pendidikan di daerah seperti Halmahera Tengah menghadapi era ini?
Harus diakui, Halmahera Tengah telah menunjukkan langkah progresif dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah daerah tak lagi melihat pendidikan sebatas pembangunan fisik sekolah, melainkan juga pembangunan manusia. Bukti nyatanya adalah program beasiswa tanpa syarat prestasi yang diberikan kepada mahasiswa Halteng untuk menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang S3. Ini adalah bentuk keberpihakan yang langka dan patut diapresiasi, karena membuka akses seluas-luasnya bagi generasi muda daerah untuk berkembang.
Namun, Society 5.0 menuntut lebih dari sekadar akses. Ia menuntut kualitas dan relevansi. Dalam hal ini, Dinas Pendidikan Halmahera Tengah telah merintis beberapa inisiatif positif, seperti penyusunan kurikulum muatan lokal dan pelatihan guru dengan pendekatan Merdeka Belajar. Keterlibatan guru-guru dari luar daerah dalam pelatihan kolaboratif adalah strategi cerdas untuk meningkatkan kapasitas pendidik lokal.
Meski demikian, optimisme ini tidak boleh menutupi kenyataan bahwa tantangan struktural masih sangat besar. Di banyak desa di Halteng, akses internet masih terbatas, fasilitas belajar berbasis digital belum merata, dan tidak semua guru memiliki kemampuan atau fasilitas untuk mengadopsi teknologi dalam proses belajar. Tanpa infrastruktur yang mendukung, semangat menuju Society 5.0 bisa berubah menjadi jargon kosong yang tidak menyentuh realita siswa di pelosok desa.
Selain itu, perlu disadari bahwa Society 5.0 bukan hanya soal teknologi. Ini juga soal membangun karakter manusia yang utuh—beretika, berpikir kritis, memiliki empati, dan mampu beradaptasi. Di sinilah peran pendidikan berbasis kearifan lokal sangat penting. Muatan lokal bukan sekadar tambahan kurikulum, tetapi jembatan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya mereka meskipun hidup di dunia digital yang terus berubah.
Maka, jika Halmahera Tengah ingin benar-benar menjadi daerah yang mampu menjawab tantangan Society 5.0, pendekatannya harus menyeluruh. Infrastruktur digital harus digenjot, guru perlu terus didampingi dalam transformasi metode mengajar, dan pendidikan harus diarahkan tidak hanya untuk mencetak lulusan, tetapi melahirkan pemikir dan pemimpin yang membangun daerahnya sendiri.
Dengan segala keterbatasan, Halmahera Tengah telah melangkah. Namun untuk berlari sejajar dalam dunia yang bergerak cepat ini, daerah ini membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, visi yang jauh ke depan, dan kolaborasi dari semua pihak. Sebab, di tangan pendidikanlah masa depan Halmahera Tengah—dan Indonesia—dipertaruhkan.
Red //
