🇲🇨-MOLOKUNEWS.COM-🇲🇨
7 Janwari 2026
Perguruan tinggi merupakan ruang penting dalam membentuk cara berpikir ilmiah mahasiswa. Melalui proses perkuliahan di ruang kelas, mahasiswa di perkenalkan pada teori, konsep, dan metode keilmuan yang menjadi fondasi berpikir akademik.
Proses ini bersifat mendasar dan tidak tergantikan. Namun demikian, tantangan dunia nyata semakin kompleks menuntut agar pembelajaran di perguruan tinggi tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan di lengkapi dengan pemahaman kontekstual melalui pengalaman lapangan.
Dalam prespektif pendidikan, pembelajaran ideal adalah pembelajaran yang bersifat utuh menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik Ruang kelas umumnya berfokus pada kognitif,
sementara lapangan menyediakan ruang pembelajaran efektif dan psikomotorik. Ketika keduanya dipadukan secara seimbang, mahasiswa tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami dan mampu menerapkan secara bijak.
Dari sudut pandangan keilmuan biologi, pembelajaran lapangan memiliki peran yg sangat penting. Fenomena kehidupan tidak selalu dapat di pahami secara optimal melaui gambar, tabel atau simulasi di kelas.
Misalkan ,Ekonomi keanekaragaman hayati, interaksi organisme dan lingkungannya, serta dampak aktivitas manusia terhadap alam lebih mudah dipahami ketika mahasiswa  mengamati langsung di lapangan.
Melalui pengalaman empiris ini, mahasiswa belajar bahwa teori biologi bukan sekadar konsep statis, melainkan alat untuk membaca dinamika kehidupan yang terus berubah.
Sementara itu, dalam prespektif sosial, lapangan menghadirkan realitas manusia sebagai subjek utama ilmu pengetahuan. Mahasiswa belajar bahwa setiap persoalan sosial memiliki latar belakang budaya, ekonomi, dan sejarah yang berbeda.
Mahasiswa harus mampu Interaksi langsung dengan masyarakat melatih indufidu untuk bersikap empatik, komunikatif, dan reflektif.Ilmu sosial tidak lagi dipahami sebagai kumpulan teori, tetapi sebagai upaya memahami manusia dalam konteks kehidupan yang nyata.
Perspektif lingkungan semakin menegaskan pentingnya keterhubungan antara kelas dan lapangan. Isu lingkungan hidup seperti pencemaran, kerusakan ekosistem, dan perubahan iklim tidak dapat dipahami secara utuh hanya dari laporan atau data statistik Lapangan, Sistim data ini hanya memperlihatkan dampak konkret dari kebijakan dan aktifitas manusia terhadap alam dan masyarakat sekitar.
Dari sini, mahasiswa belajar bahwa persoalan lingkungan selalu bersifat multidimensional, melibatkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.
Pengalaman lapangan juga membentuk sikap ilmiah mahasiswa. Mereka belajar mengamati dengan teliti, mengumpulkan data secara etis, serta menarik kesimpulan secara hati hati.
Proses ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya menuntut kecerdasaan intelektual, tetapi juga tanggungjawab moral. Inilah bekal penting bagi mahasiswa ketika kelak menyelesaikan studi dan terjun ke masyarakat.
Peran dosen dalam proses ini sangat strategis. Dosen tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pembimbing yang membantu mahasiswa menghubungkan teori dan realitas. Ketika dosen mendorong diskusi berbasis pengalaman lapangan, studi kasus, dan refleksi kritis, pembelajaran menjadi Lebih bermakna. Kampus pun berfungsi sebagai ruang dialog antara ilmu dan kehidupan, bukan sekadar ruang administratif akademik.
Penguatan pembelajaran lapangan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran ruang kelas, melainkan memperkaya dan memperdalamnya. Ruang kelas tetap menjadi fondasi konseptual, sementara lapangan menjadi ruang pengujian dan pemaknaan. Keduanya saling membutuhkan dan tidak dapat di pisahkan.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan tinggi adalah melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga matang dalam pemahaman dan sikap. Dengan menghubungkan ruang kelas dan realitas lapangan dalam prespektif biologi, sosial, lingkungan, dan pendidikan, mahasiswa dipersiapkan menjadi manusia pembelajar yang mampu membaca realitas secara utuh dan berkontribusi secara bertanggungjawab.
Dengan demikian, kuliah bukan sekadar proses menerima materi, melainkan perjalanan membangun pemahaman. Dan pemahaman yang koko hanya tumbuh Ketika ilmu pengetahuan berpijak pada realitas kehidupan.
Sumber Rilisan:( Sumitro S Tamalene)
Red-Editor media Mito MOLOKUNEWSCOM-🇲🇨
