🇮🇩-MOLOKUNEWS.COM-🇮🇩
2 Desember 2025
Morowali – Seorang pekerja lokal yang mengaku bertugas sebagai keamanan di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyampaikan kesaksian mengenai kondisi ketenagakerjaan di area tersebut. Kesaksian ini berisi keluhan terkait ketimpangan upah, perlakuan yang dianggap tidak adil, hingga keberadaan tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang jumlahnya dinilai besar. Informasi tersebut disampaikan sebagai keluhan pribadi dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Dalam pesannya, narasumber bernama Serma (Purn) Mustapa, yang mengaku bekerja sebagai petugas keamanan di lingkungan IMIP Morowali, menyebut total tenaga security mencapai sekitar 1.100 orang. Sementara jumlah pekerja lokal di seluruh kawasan mencapai puluhan ribu orang.
Menurutnya, isu yang paling banyak disoroti pekerja lokal adalah selisih gaji yang cukup jauh antara pekerja Indonesia dan pekerja asing. Ia mengklaim bahwa pekerja lokal menerima upah sekitar Rp6 Sampai 7 juta, bahkan untuk lulusan sarjana. Sementara itu, menurut kesaksiannya, upah pekerja asing asal Tiongkok disebut berada pada kisaran Rp35 Sampai 45 juta.
Pribumi tidak bisa berkutik karena butuh kerja untuk hidup, sementara gaji sangat jauh perbedaan. Pribumi gaji 6 sampai 7 juta, sedangkan TKI Cina gajinya 35 sampai 45 juta,’ungkapnya.
Ia juga menyoroti pola perlakuan yang dirasakan berbeda antara pekerja lokal dan TKA, termasuk kebijakan-kebijakan perusahaan yang menurutnya lebih berpihak kepada tenaga asing.
Tidak hanya soal gaji, narasumber ini juga mengklaim bahwa sebagian TKA yang bekerja di kawasan Sulawesi, khususnya Morowali dan Morowali Utara, tinggal di lokasi camp yang terletak jauh di dalam hutan dan terpisah dari pemukiman penduduk lokal. Menurutnya, fasilitas di dalam camp tersebut lengkap, mulai dari supermarket, area olahraga, hingga hiburan malam.
Mustapa juga menyampaikan adanya dugaan bahwa sebagian TKA di wilayah itu tidak memegang dokumen resmi seperti paspor. Namun, hingga kini tidak ada bukti resmi atau konfirmasi dari pihak berwenang mengenai klaim tersebut.
Pernyataan tersebut semakin panjang ketika ia mengaku bahwa jika ada pihak lokal yang menyampaikan kritik atau keberatan di lingkungan kerja, maka berpotensi mendapatkan tindakan tegas dari perusahaan.
Untuk TKI Cina sangat disayang sama rezim ini, karena tidak bisa dikoreksi. Kalau ada yang koreksi, mereka penjara atau pecat, tulisnya dalam pesan
Kesaksian ini juga menyebut sosok pejabat pemerintah pusat yang disebut-sebut sering turun ke wilayah industri tersebut. Namun, hingga berita ini disusun, tidak ada informasi resmi yang dapat mengonfirmasi pernyataan tersebut.
Ungkapan ini kemudian beredar luas di media sosial dan grup percakapan, dengan ajakan agar masyarakat maupun pihak berwenang memperhatikan kondisi yang dialami pekerja lokal di Morowali dan Morowali Utara. Beberapa warganet menilai bahwa aduan serupa sudah lama muncul namun belum mendapat ruang pembahasan yang lebih dalam di tingkat pemerintah.
Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi di atas adalah kesaksian narasumber dan memerlukan verifikasi lebih lanjut. Berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, Kementerian Ketenagakerjaan, serta pihak perusahaan, diharapkan dapat memberikan klarifikasi demi memastikan fakta yang sebenarnya di lapangan.
Narasumber menutup kesaksiannya dengan menyatakan bahwa ia akan memberikan informasi tambahan mengenai kondisi kerja dan kehidupan di wilayah Morowali dan Morowali Utara.
Mohon maaf, nanti saya kasih info tentang sekitar Morowali dan Morowali Utara. Makasih,” ujarnya.
Tim Red-Editor media MolokuNews.Com
