🇲🇨-MOLOKUNEWSCOM-🇲🇨
Oleh: Sumitro S Tamalene.
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara
Di ruang ruang pasca kampus enta itu dunia kerja, forum akademik, atau di tengah masyarakat pertanyaan sederhana sering muncul kepada para lulusan perguruan tinggi: kamu lulusan kampus apa?Apa nilai yang kamu bawa dari sana? Pertanyaan ini tampak ringan, tetapi sesungguhnya sejauh mana seorang mahasiswa memahami identitas akademiknya.
Sayangnya, tidak sedikit lulusan yang gagap menjawab. Mereka mampu menyebutkan gelar, jurusan bahkan IPK, tetapi kesulitan menjelaskan visi kampus, nilai dasar, dan arah pendidikan yang pernah membentuknya. Kondisi ini menandakan adanya masalah sejak di bangku kuliah.
Perkuliahan di jalani sebagai rutinitas administratif, bukan proses pembentukan diri.
Padahal, jauh sebelum sistem pendidikan modern berkembang. Ki Hajar Dewantara telah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar pengajaran, melainkan upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya. Artinya, pendidikan harus memberi arah, bukan hanya pengetahuan. Kampus dalam hal ini, memikul tanggung jawab besar dan mahasiswa tidak boleh abai terhadap arah tersebut.
Di Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNU Malut), arah itu telah di rumuskan secara jelas melalui visi dan misi kampus yang berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), kearifan lokal kepulauan, riset, kewirausahaan, dan toleransi. Nilai-nilai ini bukan sekadar identitas kelembagaan, melainkan fondasi pembentukan lulusan yang moderat, berilmu, dan berakhlak.
Pemahaman terhadap visi misi kampus menjadi penting karena di situlah mahasiswa menemukan alasan mengapa ia belajar.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah menekankan bahwa intelektual sejati bukan hanya yang cerdas secara akademik, tetapi yang memiliki kesadaran nilai dan tanggung jawab moral. Mahasiswa yang paham arah kampusnya akan lebih sadar peran. Belajar bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kontribusi sosial yang lebih luas.
Dalam tradisi NU, sikap ini sejalan dengan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari, yang menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Kampus bukan pabrik ijazah melainkan ruang pembentukan adab intelektual. Mahasiswa yang hadir secara fisik, tanpa memahami nilai yang di bawah kampusnya, beresiko menjadi lulusan yang kering secara etika dan arah.
Lebih jauh, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) berulang kali mengingatkan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang berani berpikir, dan berpihak pada kemanusiaan. Sikap kritis, dialogis, dan toleran yang menjadi ruh. Aswaja hanya mungkin tumbuh jika mahasiswa aktif memahami dan menghidupi visi kampusnya. Mahasiswa yang diam , apatis, dan hanya mengejar kelulusan akan sulit membawa nilai tersebut ke ruang publik.
Ketika mahasiswa memahami visi kampus, ia tidak akan pasif di kelas. Ia berani bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pandangan dengan adab. Ia tidak takut berbeda pendapat, karena tahu perbedaan adalah bagian dari tradisi intelektual. Dalam konteks inilah visi kampus di uji. Bukan pada dokumen resmi, tetapi pada keberanian dan kesadaran mahasiswanya.
Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memahami arah kampus akan menjalani kuliah secara mekanis. Ia mungkin lulus tepat waktu, tetapi kehilangan narasi tentang dirinya sendiri. Ketika di tanya apa ciri khas lulusannya, ia hanya mampu menjawab normatif, atau bahkan diam. Padahal, dunia luar menuntut lebih dari sekadar ijazah, ia menuntut identitas, nilai, dan sikap.
Oleh karena itu, memahami visi dan misi kampus bukan tugas seremonial, melainkan tugas dan tanggung jawab mahasiswa. Membaca, mendiskusikan, dan merefleksikan arah kampus adalah bagian dari proses menjadi lulusan yang utuh. Kampus akan hidup jika mahasiswanya hidup secara intelektual. Visi akan bermakna jika dipraktikkan dalam sikap dan tindakan.
Agar kelak tidak bingung saat di tanya, mahasiswa perlu mulai dari sekarang. Memahami kampusnya, nilai yang di bawanya, dan arah yang di tuju. Sebab lulusan sejati bukan hanya yang selesai kuliah, tetapi yang mampu menjelaskan siapa dirinya, dari mana ia di tempa, dan untuk apa ilmunya di gunakan.
Penulis : (Sumitro S Tamalene)
Red-Editor media Mito MOLOKUNEWSCOM- 🇲🇨Â
