🇲🇨MOLOKUNEWSCOM🇲🇨
14 Maret 2026
Dia adalah wakil Perdana Menteri Spanyol, Yolanda Díaz. Dia melontarkan kritik tajam kepada Uni Eropa (UE), menuduh Uni Eropa gagal mengenali ancaman eksistensial dari Presiden AS Donald Trump dan bertindak terlalu hina di hadapan Washington .
Dalam wawancara eksklusif dengan Politico Díaz dengan tegas menyatakan bahwa UE saat ini sedang disandera oleh Trump.
Ia mengecam kepemimpinan blok tersebut yang dinilainya yatim piatu di tengah momen bersejarah yang genting.
“Eropa harus berjuang untuk Eropa yang politik, ekonomi, sosial, fiskal, yang memiliki kebijakan luar negeri sendiri, kebijakan pertahanan sendiri, dan tidak disandera oleh Trump,” ujar DíaZ
Pernyataan Díaz muncul sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama hampir dua pekan. Ia dengan tegas menyebut operasi militer tersebut sebagai tindakan yang “sama sekali tidak sah” dan melanggar hukum internasional .
Lebih lanjut, Díaz mengkritik keras Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, karena dianggap gagal membela nilai-nilai dasar EU. Díaz menyesalkan pernyataan Von der Leyen yang menyebut bahwa Eropa “tidak bisa lagi menjadi penjaga tatanan dunia lama” dan perlu memiliki kebijakan luar negeri yang “lebih realistis dan digerakkan oleh kepentingan” .
“Kita harus menuntut penghormatan terhadap hukum internasional. Selain itu adalah kebiadaban,” tegas Díaz kepada wartawan di Brussels, seperti dikutip Anadolu Ajansı . Ia menambahkan bahwa tindakan Von der Leyen yang tidak segera mengutuk serangan ke Iran menunjukkan bahwa Presiden Komisi tersebut gagal membela prinsip-prinsip Piagam PBB .
“Eropa harus berpihak pada hukum internasional, hak asasi manusia, dan demokrasi. Mengingat zaman yang kita jalani, tidak ada satu pun dari kita yang bisa tetap diam,” serunya .
Tidak hanya kepada Von der Leyen, Díaz juga melontarkan kritik pedas kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz.
Insiden memalukan terjadi di Ruang Oval beberapa waktu lalu ketika Trump melontarkan ancaman untuk memutuskan hubungan dagang dengan Spanyol dan menyebut Madrid sebagai “mitra yang buruk” karena menolak menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang Iran. Di saat itu, Merz hanya duduk diam tanpa membela mitranya di EU .
“Apa yang Eropa butuhkan hari ini adalah kepemimpinan, bukan budak yang memberi penghormatan kepada Trump,” sindir Díaz, mengecam sikap “hina” para pemimpin EU yang menurutnya bodoh karena tidak disegani oleh Trump .
Díaz menegaskan bahwa Merz mewakili generasi pemimpin Eropa yang “tidak tahu cara mengelola momen bersejarah yang kita jalani ini.” Ia mengaitkan sikap tunduk ini dengan kelemahan ekonomi Jerman dan ketergantungan Eropa yang berlebihan pada AS .
Díaz juga mengingatkan Brussels bahwa kebijakan mendukung perang dapat memicu bumerang politik di dalam negeri.
“Faktanya adalah bahwa warga negara Eropa menentang perang ilegal di Iran. Dengan mendukungnya, EU pada akhirnya dapat meningkatkan sentimen Euroskeptis yang sering kali juga memicu pertumbuhan sayap kanan ekstrem,” peringatnya .
Ia memuji sikap Spanyol yang tegas menolak mendukung ofensif militer Washington dan membela hak asasi manusia. Menurutnya, sikap Madrid ini mulai mendapatkan dukungan dari pemimpin EU lainnya, bahkan Perdana Menteri Italia sayap kanan, Giorgia Meloni, baru-baru ini menyebut perang tersebut sebagai “runtuhnya aturan hukum internasional” .
Bagi Díaz, Trump bukan hanya sekadar presiden asing yang sulit diprediksi, melainkan ancaman eksistensial bagi Eropa yang gagal disadari oleh Brussels. Ia merujuk pada dokumen Strategi Keamanan Nasional AS yang dirilis Desember lalu, yang secara eksplisit menargetkan Eropa .
“Semua yang dia lakukan memiliki nuansa gila ini, tetapi jauh di lubuk hati, tindakan tersebut dimotivasi oleh kepentingan ekonomi AS,” jelas Díaz. “Eropa perlu bangun sekali dan untuk selamanya” .
Dengan tegas, Díaz menyatakan bahwa Spanyol tidak takut berhadapan dengan Trump maupun ancaman sanksi dagangnya.
“Trump telah mendikte keadaan darurat global dan melanggar semua aturan. Di saat-saat ketidakpastian, kesakitan, dan ketidakpastian absolut ini, kita harus berani dalam respons kita,” pungkasnya .
Peringatan keras dari Madrid ini menjadi tamparan bagi Brussels yang selama ini dinilai terlalu lunak.
Sementara para pemimpin Eropa lainnya berbisik, Díaz memilih untuk berteriak. Saat ini, semua mata tertuju pada apakah Eropa akan benar-benar “bangun” atau terus menjadi sandera di negerinya sendiri.
Red Sumber: Indepth.NTB.
TAYANG Rilisan Mito MOLOKUNEWSCOM- 🇲🇨
