🇲🇨-MOLOKUNEWSCOM-🇲🇨
1 Febuari 2026
Dalam relasi yang sehat, permintaan maaf adalah bentuk tanggung jawab sekaligus pengakuan atas rasa sakit yang ditimbulkan.
Namun, bagi banyak orang yang berhadapan dengan individu berkepribadian narsistik, hal sederhana itu nyaris mustahil didapatkan. Bukan karena pelaku tidak menyadari kesalahannya, melainkan karena mengakui kesalahan berarti kehilangan kendali—sesuatu yang paling mereka hindari.
Ketika seseorang disakiti secara jelas, tanpa abu-abu dan tanpa pembenaran, wajar jika yang diharapkan adalah pengakuan dan tanggung jawab. Namun dalam hubungan dengan narsisis, permintaan maaf sering kali berubah bentuk.
Mereka tidak benar-benar meminta maaf, melainkan memanipulasi situasi hingga korban merasa bersalah atas luka yang dialaminya sendiri.
Salah satu pola paling umum adalah memelintir realitas. Fakta diubah, sebab dan akibat dibalik, dan cerita disusun ulang sedemikian rupa hingga korban tampak sebagai penyebab masalah.
Pada akhirnya, bukan pelaku yang meminta maaf, melainkan korban—karena merasa “terlalu sensitif” atau “salah paham”.
Kalimat seperti, “Maaf kalau kamu merasa seperti itu,” kerap terdengar sopan dan menenangkan di permukaan.
Namun di baliknya, tidak ada pengakuan atas perbuatan yang menyakitkan. Yang disesalkan bukanlah tindakan, melainkan reaksi korban. Pesan tersiratnya jelas: masalahnya ada pada perasaanmu, bukan pada perilakuku.
Permintaan maaf yang tulus seharusnya sederhana dan tegas: “Aku salah. Aku menyakitimu. Aku bertanggung jawab.” Sebaliknya, narsisis sering menambahkan syarat dan tudingan: “Kalau saja kamu tidak bertanya,” “Kalau kamu tidak memasang batas,” atau “Kalau kamu tidak menghadapi aku.” Dalam narasi ini, korban digambarkan sebagai pemicu, seolah-olah pelaku tidak memiliki pilihan lain selain menyakiti.
Ketika penyangkalan tidak lagi berhasil, muncullah peremehan. Ungkapan seperti “Kamu berlebihan,” “Itu cuma bercanda,” atau “Kamu membesar-besarkan masalah,” bukan sekadar komentar ringan. Itu adalah upaya menghapus realitas korban. Sedikit demi sedikit, korban mulai meragukan perasaannya sendiri, memilih diam, dan belajar berjalan di atas kulit telur demi menghindari konflik.
Pada tahap berikutnya, tanggung jawab kembali dialihkan. “Lihat apa yang kamu buat aku lakukan,” atau “Kamu memprovokasiku,” menjadi pembenaran baru. Padahal, setiap orang dewasa bertanggung jawab penuh atas perilakunya sendiri. Tidak ada satu pun tindakan menyakitkan yang dapat dibenarkan dengan alasan provokasi.
Ironisnya, ketika korban berusaha bertahan dan melindungi diri, mereka justru dituduh “selalu berperan sebagai korban”. Rasa sakit dianggap drama, batasan dianggap egois, dan permintaan akan rasa hormat dipersepsikan sebagai serangan. Inilah proyeksi—ketika pelaku menolak tanggung jawab dan melemparkannya kepada orang lain.
Jika terpojok, narsisis kerap mengungkit kesalahan masa lalu yang tidak relevan dengan situasi saat ini. Bahkan jika korban pernah berbuat salah, hal itu tidak pernah membenarkan kekerasan emosional yang terjadi hari ini. Dan ketika kekejaman tak lagi bisa disangkal, semuanya ditutup dengan satu kalimat: “Aku hanya bercanda.” Padahal candaan sejati tidak merendahkan dan tidak melukai.
Para ahli hubungan menyebut pola ini sebagai bentuk manipulasi emosional yang berbahaya. Permintaan maaf tanpa tanggung jawab, penuh pembenaran dan tuduhan, bukanlah upaya memperbaiki hubungan, melainkan cara untuk mempertahankan kuasa tanpa harus berubah.
Kesadaran menjadi kunci. Ketika korban mulai melihat pola yang berulang, mereka berhenti menunggu permintaan maaf yang tak akan pernah datang. Mereka memahami bahwa perasaan mereka valid—bahkan ketika terus-menerus disangkal. Mereka tidak menyebabkan perilaku itu, dan tidak bertanggung jawab atas pilihan orang lain.
Seorang narsisis tidak pernah benar-benar meminta maaf. Mereka memilih untuk menolak rasa bersalah, lalu memindahkannya kepada orang yang mereka lukai. Dan saat pola itu disadari, di situlah proses pemulihan dan pembebasan diri benar-benar dimulai.
Sumber:(M Saleh )
EDITOR:MITO MOLOKUNEWSCOM-🇲🇨
