π²π¨-MOLOKUNEWSCOM-π²π¨
Ternate, Maluku Utara β 25 Desember 2025
Tanggal 25 Desember seharusnya menjadi momen kebahagiaan paling besar dan bersejarah bagi umat Kristen di seluruh dunia, saat menyambut kelahiran sang Juruselamat. Di tengah kegembiraan kumpul bersama keluarga dan nyanyian lagu natal yang menggema, suasana di Desa Gorua dan Desa Popilo, Maluku Utara, terasa sebaliknya: penuh kesedihan dan kekecewaan. Panggilan nama korban yang hilang menggema di tepi pantai, menyusuri hutan, kebun, dan seluruh pelosok desa β bukan nyanyian natal yang merdu, melainkan tangisan dan harapan yang memudar seiring waktu.
Kisah yang menyayat hati ini dimulai pada hari Sabtu, 13 Desember 2025. Santi, seorang perempuan muda dari Desa Popilo, menghilang setelah selesai mengikuti acara pesta. Menurut informasi yang diperoleh, korban terakhir dijemput oleh seseorang yang dikenal sebagai “Adre” β orang yang memiliki hubungan tanpa status dengan dia β setelah berkomunikasi melalui pesan teks. Sejak saat itu, keberadaan Santi tidak terlihat lagi.
Keluarga korban awalnya mengira Santi berada di rumah teman-teman, seperti anak-anak muda lainnya yang seringkali menghabiskan waktu bersama menjelang Tahun Baru. Namun, setelah satu minggu keberadaannya tidak terduga, kekhawatiran mulai meluas. Pada hari Sabtu, 20 Desember 2025, nenek Santi bersama keluarga mendatangi Satuan Pelayanan Khusus Tindak Pidana (SPKT) Polres Halmahera Utara (Halut) untuk melaporkan kasus kehilangan.
Harapan keluarga untuk mendapatkan bantuan segera dari pihak kepolisian ternyata tidak terpenuhi. Sebaliknya, petugas SPKT malah memberikan nasehat yang tidak sesuai dan membangun stigma yang menyakitkan. Keluarga dilarangkan untuk pulang dengan alasan “kemungkinan korban di bawa pacar”, dan bahkan diberikan analogi bahwa Santi “minum-minum seperti perempuan liar”. Stigma buruk ini memperparah kondisi keluarga yang sedang dalam kecemasan dan frustasi mencari korban, meskipun laporan kehilangan telah dipublikasikan.
Padahal, tugas SPKT adalah menangani laporan kasus orang hilang secara cepat dan tepat, terutama ketika yang hilang adalah perempuan β yang berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan. Keluarga melaporkan berkali-kali dari tanggal 20 hingga 24 Desember, namun tidak ada tindakan nyata dari pihak kepolisian. Akhirnya, mereka diarahkan ke Resmob (Reserse Mobil), dan ketika ada bau bangkai tercium di pantai, keluarga memohon untuk menggunakan anjing pelacak. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan, dan hanya 3 orang personil yang turun ke lokasi β tanpa menemukan apa-apa.
Tanpa bantuan yang memadai, keluarga dan warga Desa Gorua memutuskan untuk mencari Santi sendiri. Mereka melakukan interogasi kepada orang-orang yang dicurigai, dan setelah proses yang panjang dan melelahkan, salah satu sumber menyebutkan bahwa terduga berencana membuang sesuatu yang dibungkus dalam karung di bawah jembatan Sungai Wari.
Pada subuh jam 5 pagi tanggal 25 Desember β tepat pada hari Natal β keluarga dan warga bergegas ke lokasi yang disebutkan. Di sana, mereka menemukan satu karung yang terikat di bawah jembatan. Setelah dibuka, didalamnya terdapat tulang manusia dan baju yang dikenali keluarga sebagai pakaian yang dikenakan Santi pada malam dia menghilang. Kondisi korban sangat mengenaskan: tubuhnya telah terpotong-potong, mutilasi dilakukan dengan cara yang sangat sadis dan tanpa ampun, hingga hanya tinggal tulang belulang.
Keluarga kemudian menghubungi pihak kepolisian untuk mengambil mayat. Kasus ini menjadi bukti lagi bahwa kekerasan terhadap perempuan terus terjadi di Maluku Utara, dan lebih menyakitkan lagi adalah sikap institusi yang tidak berperspektif gender dalam menangani kasus orang hilang perempuan. Padahal, Maluku Utara telah memiliki contoh kasus serupa pada tahun 2019, ketika Almarhumah adik Kiki Kumala β seorang perempuan β juga menghilang dan kemudian ditemukan tewas dalam kondisi menyayat hati.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar terhadap kesiapan dan komitmen lembaga penegak hukum dalam melindungi perempuan dari kekerasan, serta dalam menangani kasus orang hilang dengan cermat dan tidak memihak. Di tengah momen yang seharusnya penuh kebahagiaan, keluarga Santi dan warga Desa Gorua harus menghadapi kenyataan pahit tentang kehilangan yang tidak perlu, yang mungkin bisa dihindari jika bantuan datang tepat waktu.(
(Sumber yuliya )
(Red-Editor Media Mito Molokunews
