🇮🇩-MOLOKUNEWS.COM-🇮🇩
5 Desember 2025
Kerusakan hutan dan lingkungan yang terus terjadi di Halmahera kembali mendapat sorotan tajam. Kali ini, suara kritis datang dari Husain Sjah, Sultan Tidore, yang menyampaikan kegelisahan terhadap maraknya penebangan dan aktivitas tambang ilegal maupun ber-IUP yang dinilai dilakukan secara serampangan di kawasan hutan.Halmaherah
Dalam pernyataannya, Sultan Tidore menilai bahwa berbagai bencana ekologis yang menimpa masyarakat desa di daerah terpencil tidak lepas dari keserakahan segelintir pihak yang datang dari pusat kota dengan membawa secarik kertas bernama Izin Usaha Pertambangan (IUP).
“Pohon-pohon dalam hutan ditebang secara serampangan dan tanah ditambang secara membabi buta. Semua itu ulah orang-orang serakah yang datang dari pusat kota membawa secarik kertas bernama IUP,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan alam yang terjadi bukan hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga mewariskan penderitaan panjang bagi masyarakat lokal yang tinggal bergantung pada hutan dan tanah leluhur mereka.
“Setelah itu mereka pergi membawa isi perut Halmahera, meninggalkan kita dan anak cucu dalam derita yang tak terperi,” tegasnya.
Sultan Tidore mempertanyakan hati nurani para pemangku kebijakan yang seharusnya melindungi rakyat, bukan justru membiarkan eksploitasi berlangsung tanpa kendali.
Ia juga mengajak masyarakat desa untuk tetap menjaga martabat dan nilai-nilai luhur, serta tidak terpengaruh oleh pihak luar yang mengatasnamakan negara tetapi justru merusak keutuhan bangsa.
NKRI harga mati di tangan kita, bukan di tangan mereka para begundal yang bersembunyi atas nama negara. Jangan biarkan Indonesia retak karena ulah mereka,” serunya.
Pernyataan tersebut disebut sebagai bentuk ikhtiar suara hati di belantara sunyi anak Halmahera, sebuah refleksi mendalam terhadap kondisi lingkungan dan masa depan tanah adat.
Pesan ini menjadi pengingat keras bahwa keberlanjutan tanah dan hutan Halmahera harus menjadi prioritas, bukan korban dari kepentingan ekonomi jangka pendek.
Red-Editor: Media Mito molokuNews
